Strategi Co-Branding

Strategi Co-Branding

 

Digital Branding Indonesia – Dengan semakin terbukanya akses informasi untuk konsumen, pemilik merek di berbagai industri dihadapkan pada tantangan yang beraneka ragam dalam membangun merek. Semakin banyak produk yang beredar di pasar tanpa disertai inovasi yang berarti dan malah membuat konsumen bingung. Tidak jarang merek menjadi lemah dan perlahan-lahan kehilangan relevansinya.

 

Ada banyak strategi yang bisa dilakukan oleh para pemilik merek dalam menyikapi tantangan tersebut. Salah satu strategi yang digunakan untuk merebut perhatian konsumen adalah strategi co-branding.

 

Phillip Kotler mendefinisikan co-branding sebagai dua atau lebih brand yang sudah dikenal dikombinasikan di dalam penawaran , di mana satu sama lain saling memperkuat dan berharap mendapat perhatian dari audiens baru.

 

Co-branding dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan berdasarkan kekuatan hubungan dan share value yang tercipta :

  1. Reach and awareness. Merupakan level yang terendah untuk meningkatkan kesadaran merk melalui ekspose terhadap basis pelanggan mitranya.
  2. Value endosement. Dirancang untuk mendukung positioning dan brand value masing-masing merek.
  3. Ingredient yaitu merk yang memasok merk lainnya.
  4. Complementary competence merupakan kerja sama level tertinggi dimana merk yang sama-sama kuat dan saling melengkapi bekerja sama dalam memproduksi suatu produk. Misalnya Citibank Telkomsel Card, Garuda Indonesia Citibank Card. Citibank memilih Telkomsel dan Garuda Indonesia karena kedua perusahaan tersebut memiliki nilai yang kuat dan merupakan pemimpin pasar di industri masing-masing dan bisa memberikan nilai tambah ke pelanggan dan target pasar yang sama.

 

Berikut adalah beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dengan melakukan co-branding (Marketing, April 2006) :

1.Mendongkrak penjualan.

Dengan menggandeng merek lain perusahaan dapat meningkatkan volume penjualan apalagi merek yang diajak kerja sama merek yang setara bahkan yang lebih kuat. Misal Microsoft dengan Intel, Telkom dengan Nokia.

 

2.Kesempatan memasuki pasar baru.

Dengan menggandeng perusahaan yang menguasai segmen pasar yang belum dilayani maka dengan co-branding akan lebih mudah memasuki pasar baru.

 

3.Menawarkan additional benefit.

Strategi ini dapat memberikan benefit tambahan bagi konsumen misal berupa paket penawaran yang lebih menarik, bonus tambahan, penawaran kredit dari bank dan lain-lain.

 

4.Meminimalkan investasi.

Dalam strategi pengembangan usaha untuk memasuki pasar baru strategi ini dapat menghemat biaya.

 

5.Mengurangi resiko.

Dapat mengurangi resiko kegagalan terutama dalam memasuki pasar baru dan menciptakan produk baru.

 

6.Mengkomunikasikan kualitas produk.

Dengan strategi ini konsumen dapat lebih cepat mengetahui kualitas produk, lebih tertarik dan percaya.

 

7.Akses tekhnologi canggih.

Perusahaan yang Lemah tekhnologinya dapat melakukan co-branding dengan perusahaan lain yang mempunyai fokus, reputasi dan ahli.

 

Sementara resiko yang dihadapi antara lain (Swasembada 2006) :

1.Kerakusan terhadap uang.

Apabila pihak yang bekerja sama hanya mementingkan keuntungan sendiri saja tanpa memperhatikan kerja sama co-branding yang harus dibina dengan baik dapat mengakibatkan kurang menguntungkan.

 

2.Perbedaan corporate personality.

Agar kerjasama berhasil perusahaan–perusahaan yang bekerja sama harus menyesuaikan gaya atau personalitynya.

 

3.Merger atau take over.

Bila salah satu perusahaan merger atau diambil alih maka dapat menimbulkan masalah pada kerja sama yang telah dibuat. Kesepakatan-kesepakan yang dibuat bisa berubah.

 

4.Perubahan pada perilaku pasar.

Perusahaan harus jeli mempelajari situasi pasar yang selalu berubah karena dapat menjadi ancaman yang serius.

 

5.Resiko kehilangan identitas.

Perusahaan dapat kehilangan identitas aslinya dan bisa mengakibatkan hanya ada satu identitas sehingga perusahaan dapat mengalami perubahan image atau identitas di mata pelanggan.

 

6.Kegagalan memenuhi target.

Jika salah satu partner gagal memenuhi target, maka resiko kerja sama bisa dibatalkan.

 

7.Terciptanya single brand.

Apabila pelanggan mulaimelihat kedua brand menjadi satu brand, maka membutuhkan tindakan cepat untuk mengembalikan situasi.

 

 

 

 

LEAVE A COMMENT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.