digital branding indonesia

Soul Of Digital Branding

Digital Branding Indonesia – Di era globalisasi dan serba digital seperti sekarang ini, perkembangan dan penyebaran informasi dan komunikasi makin cepat dan nyaris tanpa batas serta masyarakat yang semakin cerdas dan mudah dalam mengakses (connecting) dan memilih (choosing) berbagai informasi sesuai kebutuhan mereka, bahkan menjadi bagian aktif dalam menyebarkan (sharing) informasi kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun. Menurut data yang dirilis oleh DBS Vickers (Asosiasi Penyelenggara Data Internet Indonesia) bahwa INDONESIA merupakan pasar E-commerce terbesar ASEAN dan melampaui Thailand dan Singapura pada tahun 2014, selain itu juga pemerintah menargetkan Indonesia menjadi pusat ekonomi Asia Tenggara pada tahun 2020. Oleh karenanya, seiring dengan perkembangan tersebut, maka dukungan penting Digital Branding yang mampu mengekspos ‘soul of identity corporate’ sebagai langkah tepat untuk melakukan aktivitas branding yang tertarget langsung kepada konsumen tetapi perusahaan tetap tampil modern, elegan, unik, komunikatif dan tentu dengan menggunakan kecanggihan teknologi agar mudah mencuri persepsi dibenak konsumen kita. Untuk itu mari kita cermati tulisan menarik berikut ini..!!!

 

7 ALASAN  kenapa harus Digital Branding?

Ada beberapa alasan mengapa perusahaan sebaiknya mulai menggunakan tools digital marketing dalam melakukan campaign mereka:

  1. Consumers are more informed

Dulu mungkin kita masih bisa menggunakan peran dana besar dalam melakukan marketing product / brand. Hanya dengan menyewa sebuah agency periklanan dan mereka akan memberikan ide untuk mengkomunikasikan sebuah ‘unique value proposition’ dan membuat awareness serta demand produk anda melalui kanal mass media seperti TV. Kita hanya perlu memberitahu konsumen dimana mereka dapat membeli produk kita ketika mereka tertarik dengan iklan kita (misal di toko swalayan). Marketing jenis ini lebih bersifat ‘outbound’ yang berarti kita memasarkan produk kita ke arah konsumen.

 

Saat ini konsumen sudah semakin ter-edukasi dan semakin banyak informasi yang dimiliki oleh konsumen dalam memilih suatu brand/product. Seiring dengan banyaknya informasi, di saat yang sama pilihan konsumen juga semakin banyak yang artinya konsumen akan sangat sulit memilih informasi yang mereka terima. Konsumen tidak bisa memproses semua informasi tersebut! Mereka akan mengabaikan iklan anda apabila mereka merasa tidak membutuhkan produk anda.

 

Digital marketing sebagai sebuah tools mempunyai banyak kanal marketing seperti social media dan search engine marketing, dimana hal tersebut bersifat ‘inbound’ karena keinginan akan informasi product akan datang dari konsumen itu sendiri. Dengan marketing yang bersifat ‘inbound’, kemungkinan konversi konsumen terhadap brand atau product yang ditawarkan akan lebih besar karena relatif akan lebih relevan dengan kebutuhan konsumen dibandingkan dengan metode ‘outbound’

 

  1. Digital marketing offers measurability

Marketing campaign menggunakan tools digital marketing seperti Facebook Ads, Google AdWords ataupun placement banner ads di ad network dapat diukur secara real-time melalui fitur reporting yang dimiliki oleh masing-masing tools.

 

Data campaign sudah dapat kita lihat beberapa saat setelah kita melakukan ‘launch’ campaign kita di digital marketing tools yang kita pilih. Misalkan kita menggunakan Google AdWords, dalam waktu beberapa jam kita sudah akan melihat jumlah data impression (kemunculan iklan) dan jumlah orang yang melakukan klik pada iklan yang kita pasang.

 

Hal ini akan sulit dilakukan apabila kita menggunakan metode konvensional seperti pemasangan iklan di TV ataupun di media print. Dari 10 kali pemasangan iklan di TV, seberapa banyak orang yang melihatnya? Dari 3 majalah tempat kita menaruh iklan, berapa banyak orang yang melihat iklan tersebut? Dari orang-orang yang melihat iklan kita di TV ataupun di majalah tersebut, berapa orang yang membeli product kita?  Hal-hal seperti ini mungkin saja dapat diukur melakukan lembaga research seperti Nielsen, tetapi hasil report tersebut hanya berupa data sample yang diekstrapolasi dan bukan data sebenarnya seperti yang ditawarkan oleh tools digital marketing.

 

  1. You are in control

Sebagai digital marketers, kita praktis mempunyai kendali penuh atas campaign marketing brand kita seperti jumlah budget, lama campaign berlangsung hingga target audience iklan (lokasi, device yang dipakai, dan lainnya) yang akan kita pasang. Tools digital marketing seperti Google AdWords bahkan dapat menentukan lokasi pemunculan iklan kita berdasarkan radius kota yang kita tuju (misalkan hanya seputar 5km dari kota Jakarta).

 

Apabila kita bandingkan dengan tools marketing konvensional, memang kita bisa memberi ‘direction’ mengenai isi campaign ataupun waktu pemasangan iklan, tetapi setelah itu kendali ada sepenuhnya di pihak ke-3 seperti stasiun TV ataupun pemilik majalah. Apabila ada perubahan, biasanya membutuhkan waktu dan tidak dapat dilakukan saat itu juga yang berakibat kita dapat kehilangan momentum. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan digital marketing tools.

 

  1. Flexible scalability

Dengan adanya kendali penuh pada tools digital marketing, kita dapat secara fleksibel mengatur skalabilitas campaign kita. Misalkan, pada tahap awal, kita dapat mengatur bahwa iklan kita muncul hanya di kota Jakarta saja sebagai pilot project, dan apabila kita melihat bahwa campaign kita cukup sukses membawa traffic, maka kita dapat melebarkan scope dari campaign kita secara cepat ke kota-kota lainnya.

 

Dengan adanya fungsi skalabilitas digital marketing seperti ini, para pemilik brand tidak perlu merasa takut untuk melakukan eksperimen dalam campaign marketing mereka karena mereka dapat setiap saat merubah skala campaign mereka.

 

  1. Drive Brand Engagements

Brand loyalty konsumen merupakan salah satu hal yang paling penting bagi sebuah brand karena hal tersebut akan menentukan sustainability sebuah brand dalam jangka panjang. Seringkali para Brand Manager menggunakan metode activation dalam melakukan engagements kepada para konsumennya dimana biasanya hal ini dilakukan dalam bentuk offline event seperti konser musik ataupun seminar di mall-mall. Hal ini sangat baik untuk dilakukan, tetapi dana yang dibutuhkan pun tentunya akan sangat besar dan ruang lingkupnya biasanya terbatas pada daerah ataupun kota tertentu saja.

 

Dengan adanya social media sebagai salah satu tools digital marketing, sebuah brand dapat melakukan engagement secara langsung dan berkala kepada konsumen-nya kapan saja dengan biaya yang relatif lebih terjangkau. Dengan adanya engagement secara berkala ini, brand dapat mengkomunikasikan program-program maupun layanan yang mereka miliki. Konsumen pun akan dapat menyampaikan feedback secara langsung terhadap brand dan hal ini sangat berharga untuk menyempurnakan produk maupun layanan yang ditawarkan oleh brand tersebut.

 

Dengan adanya consumer engagement yang baik melalui digital marketing, diharapkan consumer loyalty terhadap brand pun akan terbangun secara alami dan menimbulkan word of mouth serta rekomendasi kepada teman maupun keluarga karena mereka akan merasa ‘dekat’ dan percaya dengan brand kita.

 

  1. Collaborative Experts and Communities

Apabila kita masih awam, kita tidak perlu ragu ataupun takut dalam menggunakan tools digital marketing yang ada, karena mayoritas dari pengguna internet pun masih saling belajar. Hal ini dikarenakan perkembangan teknologi yang sangat cepat dan munculnya best practice yang baru setiap saat.

 

Mayoritas dari digital marketing tools yang ada sudah mempunyai fitur tutorial maupun forum untuk saling berdiskusi apabila menemui kesulitan. Google dalam rangka mempromosikan marketing tools-nya yang bernama Google AdWordsbahkan menyediakan jaringan hotline khusus bagi user yang ingin bertanya mengenai penggunaan tools tersebut. Begitu hal-nya dengan social media toolsyang forum-forumnya sudah banyak tersebar di ranah digital seperti contohnya adalah di LinkedIn.

 

  1. Complementary Tools

Saat ini mungkin sudah ada ‘pakem’ standar untuk beberapa digital marketing tools yang biasa dipakai seperti Facebook, Twitter maupun Google Ads. Kabar baiknya adalah, penggunaaan tools-tools tersebut dapat dimaksimalkan dengan muncul-nya tools-tools yang bersifat ‘melengkapi’ cara kita menggunakan tools tersebut.

 

Contoh-contoh complementary toolsnya antara lain adalah Google Analytics(untuk melakukan analisa traffic dan tren dari campaign), HootSuite (untuk melakukan scheduling ketika posting di social media), AdWords Editor (untuk mengedit campaign Adwords secara cepat) dan masih banyak tools lainnya.

 

Dengan menggunakan digital marketing, bukan berarti marketing konvensional seperti ATL (iklan TV) ataupun iklan di print media tidak penting. Kedua hal tersebut menurut saya dapat dilakukan secara berdampingan dan melengkapi. Meskipun angka penetrasi internet Indonesia mengalami growth yang cukup signifikan dari tahun ke tahunnya (mengalami peningkatan sebesar 10% dibanding tahun 2011 menurut MarkPlus Insight), tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas internet yang memadai, dan di tempat itu peran TV dan media konvensional lainnya masih tetap dibutuhkan. @jj

 

Jadi, apakah anda sudah tertarik untuk menggunakan digital Branding?

LEAVE A COMMENT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.