Apa Yang Bisa Diukur Dari Brand Experience Pada Konsumen?

Apa Yang Bisa Diukur Dari Brand Experience Pada Konsumen?

 

Digital Branding Indonesia – Keterikatan pada brand, kepribadian brand dan keterlibatan pada brand adalah semua istilah yang dipromosikan oleh pemasar atau perusahaan. Dimana kegembiraan dan kepuasan pelanggan menjadi pengalaman merek (brand experience) yang subjektif. Jadi, bagaimana cara mengukur brand experience yang efektif?

 

Dimensi pengalaman pelanggan didasarkan pada teori kognitif dan ilmu kognitif, sebuah filosofi yang membahas pengetahuan dan persepsi, dan pengalaman yang dijelaskan oleh Pine dan Gilmore (1999).

  • Brand attitudes adalah reaksi emosional atau otomatis yang dialami konsumen yang biasanya didasarkan pada keyakinan mereka. Ketika seorang konsumen menyampaikan “Saya suka merek itu” dalam beberapa cara, konsumen mengekspresikan brand attitudes. Brand experience menghubungkan pengalaman yang terkait dengan merek, bukan hanya evaluasi umum atau penilaian merek.

 

  • Brand attachment terungkap melalui ikatan emosional kuat yang dimiliki pelanggan dengan merek tersebut. Brand attachment dinyatakan dalam ikatan, semangat dan koneksi atau keterlibatan dengan merek. Brand experience pada dasarnya tidak ditandai oleh emosi.

 

 

  • Customer delight adalah aspek kepuasan pelanggan yang ditandai dengan pengaruh positif dan tingkat gairah yang cukup tinggi. Customer delight terjadi setelah konsumsi merek dan harus memiliki elemen kejutan. Brand experience terjadi setiap kali ada interaksi dengan merek, baik langsung maupun tidak langsung. Brand experience tidak perlu mengikuti konsumsi merek.

 

  • Brand personality adalah aspek yang menarik dari hubungan dengan merek, di mana konsumen menyukai merek dengan lima dimensi berbeda, yang diambil bersama-sama untuk membentuk kepribadian. Menurut Jennifer Aaker, 1997, dimensi-dimensi ini adalah ketulusan, kecanggihan, kompetensi, kegembiraan, dan kekuatan. Brand personality harus disimpulkan karena konsumen memproyeksikan antusiasme mereka ke sebuah merek. Dengan cara ini, brand personality berbeda dari brand experience, di mana antusiasme konsumen lebih dirasakan daripada dibayangkan. Brand personality didefinisikan sebagai “himpunan karakteristik manusia yang terkait dengan merek” (Aaker, 1997, hal. 347).

 

Lantas, bagaimana brand experience dapat digunakan untuk memprediksi perilaku konsumen?

 

Brakus, dkk. (2009) mengatakan bahwa brand experience secara positif akan mempengaruhi kepuasan dan kesetiaan konsumen serta mempengaruhi brand personality. Mereka melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara brand personality dan brand experience.

 

Brand personality disimpulkan oleh konsumen dari sejumlah hubungan dengan merek, yakni :

  1. Jenis orang yang terkait dengan merek.
  2. Atribut produk.
  3. Hubungan dengan kategori produk.
  4. Nama merek.
  5. Pesan dan komunikasi tentang merek.

 

Dalam penelitian, menggunakan skala yang dikembangkan oleh Brakus, dkk. (2009), 209 siswa memberikan peringkat pada deskripsi pengalaman merek mereka, kepribadian merek, dan kepuasan dan kesetiaan terhadap merek. Para peserta studi menilai 12 merek yang berbeda dalam enam kategori produk konsumen, yang terdiri dari komputer, air kemasan, pakaian, sepatu olahraga, mobil, dan surat kabar.

 

Data dianalisis menggunakan analisis faktorial dan model persamaan struktural. Penelitian menegaskan bahwa brand experience dapat diukur pada empat dimensi: Sensorik, afektif, intelektual, dan perilaku. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa merek membangkitkan dimensi-dimensi ini dengan cara yang dapat dibedakan. Brand personality akan meningkatkan diferensiasi produk dan memengaruhi brand experience.

 

Ingin memperkuat strategi brand perusahaan Anda? Segera diskusikan dengan Rumah Asyam. Kami akan memberikan solusi yang tepat untuk Anda.

 

(Diolah dari berbagai sumber)

LEAVE A COMMENT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.